Long Distance Relationship - To #cowokPintar

Jauh aku merasa kita sangat jauh secara fisik, tiga minggu sudah aku meninggalkanmu dikota kita. Berharap semua akan biasa saja, setelah aku dikotaku sekarang. Berharap aku bisa mengontrol segala rasa rindu, emosi, dan cinta ini untuk sesaat selama dua bulan saja. Tapi kenyataannya aku kalah, aku menyerah dengan semua yang hatiku rasakan. Hatiku menangis, berontak inging kembali kekota kita dan menemukanmu disana yang dengan setia menungguku untuk kembali dari keegoisanku untuk memulai masa depanku dengan baik di Ibukotaku. Semua adalah pilihan yang harus ada pengorbanan. Aku memilih untuk memulai hal baru yang aku sebut pintu gerbang suksesku dengan mengorbankan rasa cinta ini, dan terlebih mengorbankanmu. Tapi dengan sebuah janji kepada hatiku sebelum aku meninggalkan kota kita adalah, aku pergi untuk merindukan dan pulang untuk kenangan. Mengenang hari-hari yang aku lalui tanpa kamu disisiku, hari-hari yang aku lalui dengan berjauhan denganmu. Tapi aku bersyukur disaat aku jauh denganmu, aku mendapat pemaknaan akan cintaku padamu. Bagaimana aku harus lebih sempurna lagi untuk mencintaimu, bukan hanya mencintai kebaikanmu, mencintai apa yang terlihat oleh mataku secara fisik, tetapi aku harus bisa lagi mencintaimu dengan mata tertutup, dengan mendengar, dengan merasakan jauh lebih dalam lagi hatiku dapat memahami hatimu. Karena harapan yang ada untukmu bukan hanya sekedar kita menjadi sepasang kekasih, tetapi harapan untuk dapat melihat senyum pertama dipagi harimu setiap hari hingga roh, jiwa dan ragaku tak menjadi satu kesatuan yang utuh lagi. Dan semua itu tak hanya cukup cinta yang memiliki kemampuan seperti mata untuk melihat kebaikan saja, tetapi cinta yang ada karena jiwa, roh, dan raga yang berelegi menjadi sesuatu hal yang tidak dapat didefinisikan dengan sebatas ungkapan, dan tindakan yang terpisahkan satu sama lain. Membawamu dalam setiap doa-doaku bukan menjadi sesuatu yang harus aku ingat lagi, karena semua tentangmu secara spontan akan muncul disaat aku mau memulai membangun menara doaku. Aku pernah mengatakan kamu menjadi urutan ke-7 setelah orang-orang yang aku pernah sebutkan. Tapi saat ini, kamu menjadi ke-3 dalam hidupku. Terima Kasih untuk cintamu, yang memang aku butuhkan hari ini, esok, dan lusa setiap harinya. Mencintaimu tak lagi  menjadi ketakutanku, karena mencintaimu merupakan kebahagiaanku saat ini. 

Regards,
#cewekManis