MARKETPLACE, “SURGA” BARU BAGI KOSMETIK PALSU?


Bukan rahasia lagi bahwa tidak ada hari tanpa mengakses marketplace bagi penduduk Indonesia. Keberadaan marketplace sudah menjadi kebutuhan dan solusi efektif bagi mereka yang membutuhkan transaksi finansial dalam waktu cepat tanpa harus mengeluarkan energi lebih seperti datang langsung ke toko dan bertemu penjual.
kosmetik
Di era digital, semua serba instan. Butuh barang semudah membuka aplikasi di ponsel, pesan, dan duduk manis menunggu barang tiba di rumah. Ditambah lagi gaya hypersocial masyarakat Indonesia, yang 130 juta orang di dalamnya aktif menjadi pengguna media sosial.

Hal ini juga membawa angin segar bagi industri kosmetik di tanah air. Jika selama ini produk impor didistribusikan ke department store atau toko, maka produk lokal juga tidak kalah saing dalam memanfaatkan ruang untuk memasarkan barangnya.

Sepanjang tahun 2017 saja, produsen kosmetik lokal di tanah air tumbuh hingga 25 persen. Di tahun sebelumnya, sudah ada 760 perusahaan yang bermain dalam pasar kosmetik lokal.

Fakta ini seakan menegaskan bahwa Indonesia adalah pasar menggiurkan bagi industri kosmetik. Terlebih, Kementerian Perindustrian menyebutkan bahwa faktor mayoritas demografi penduduk usia muda di Indonesia turut menyumbang larisnya bisnis kosmetik di Indonesia. 

Ketika pembeli di usia produktif aktif bertransaksi di marketplace, ditambah lagi tawaran produk kosmetik yang begitu beragam, maka bisnis akan terus berkembang pesat. Namun hal ini juga membawa dampak negatif. Salah satu produk yang dipaslukan adalah fair n pink whitening body serum. Pastikan anda hanya membeli di agen resmi seperti fairnpink.co.id

Pemalsuan Kosmetik Kian Mengkhawatirkan

Dengan bebas dan luasnya ruang untuk berbisnis di marketplace, sangat disayangkan masih ada saja peluang yang dimanfaatkan dengan tidak bertanggungjawab oleh beberapa pihak. Akibatnya, pemalsuan kosmetik tidak terhindarkan lagi.

Promosi dan sosialisasi produk lewat media sosial berbasis Internet dihalalkan, dan menomorduakan keaslian produk. Lagi-lagi yang dijual adalah embel-embel harga miring sehingga membuat konsumen yang kurang teliti menjadi mudah terpikat.

Awal 2017 lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membawa masalah ini ke tingkat yang lebih serius. Mereka menggelar Bimbingan Teknis Persyaratan Penandaan dan Iklan Kosmetika bagi Pelaku Usaha dan Sektor Terkait, untuk meningkatkan pemahaman terhadap produk kosmetik yang dipasarkan secara online lewat berbagai marketplace. Kala itu, 62 perusahaan kosmetik dan 6 pengusaha e-commerce diundang untuk hadir.

Dua pihak yang saling bekerja sama ini tentu sangat diperlukan kehadirannya untuk mengawasi bersama peredaran kosmetik palsu di marketplace.

Berbagai cara digunakan produsen kosmetik palsu untuk memasarkan produk mereka, tidak terkecuali dengan cara memoles iklan di marketplace semenarik mungkin. Bahkan bisa jadi cara yang digunakan dibuat lebih menarik dibandingkan dengan produsen kosmetik legalnya sendiri.

Kementerian Komunikasi dan Informatika tidak tinggal diam melihat fenoemna ini. Lewat Sub Direktorat Penyidikan dan Penindakan, situs bermuatan negatif yang menjual produk ilegal diblokir.

Pada tahun lalu, Kominfo menerima aduan 14.000 situs bermuatan negatif, salah satunya yang memanfaatkan media sosial sebagai tempat untuk memasarkan produk kosmetik palsu. 

Dari tahun ke tahun, hampir 50 persen iklan produk kosmetik tidak sesuai dengan ketentuan. Modus yang digunakan pelaku sangat bervariasi dan halus, bahkan menggunakan cara yang mudah diterima oleh masyarakat luas.

Aktif Menjadi Pengawas

Melihat betapa mengkhawatirkannya efek samping dari produk kosmetik ilegal, sudah saatnya masyarakat juga mengambil peran. Bukan perkara mudah menelusuri modus yang digunakan produsen di dunia Internet yang tidak mengenal batas. 

Tugas masyarakat untuk mau aktif melaporkan produk palsu yang beredar di marketplace, serta menanamkan pengetahuan yang cukup untuk memahami asli tidaknya sebuah produk kosmetik. Didukung dengan sinergi kerja sama antara produsen kosmetik dan pemerintah, maka bersama-sama marketplace tidak akan lagi menjadi “surga” bagi produsen kosmetik palsu.