Asal-Usul Bisnis Puspita Food


Asal-Usul Bisnis Puspita Food yang awalnya bermodalkan uang pinjaman saat ini berkembang menjadi bisnis kuliner yang patut diacungi jempol di antara kompetitor lainnya. Oleh karenanya modal uang saja tidak cukup dalam mendirikan bisnis, melainkan dibutuhkan kegigihan, tekad, dan mental yang luar biasa dalam berbisnis.



Kegigihan dan mental dibutuhkan saat, usaha yang kita rintis mengalami jatuh atau merosot karena pada dasarnya roda selalu berputar, bisnis tidak terus di atas melainkan mengalami pasang surut. Sedangkan modal dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dalam proses produksi.

Pada awal berdirinya, menurut https://undercover.co.id/ Puspita Food bermodalkan uang pinjaman dari bank keliling, karena pada saat itu Ira sedang kesulitan keuangan akibat dari suaminya yang mengalami PHK. Kesulitan setelah suaminya mengalami PHK, membulatkan tekad Ira untuk membuka usaha.

Lalu, Ira meminjam uang sebesar satu juta rupiah kepada bank keliling. Modal sebasar satu juta rupiah ia gunakan untuk membuat siomay. Dengan berbekal modal tersebut dan keahlian membuat siomay yang ia dapat dari tukang siomay keliling, ia telah mengembalikan modalnya bahkan lebih dari cukup untuk biayai hidup sehari-hari.

Saat ini, omzet Puspita Food mencapai 50 sampai 60 juta rupiah per bulan. Omzet tersebut terus meningkat tiap bulannya apalagi jika banyak acara pernikahan yang ia layani, bisa jadi jumlah pesanan yang ia terima mencapai 100 hingga 200 Kg. Bisnis yang digeluti Ira berkembang pesat hingga akhirnya, ia memiliki tiga karyawan dan beberapa reseller. Dengan dibantu suami, bisnis Ira terus berkembang pesat.

Puspita Food saat ini seperti dilansir https://www.bandungadvertiser.com/melayani beberapa reseller dan banyak pelanggan, karena pelayanan yang diberikan baik, selain itu bersih, enak dan harga yang terjangkau membuat pelanggan tidak mau beralih ke siomay lainnya. Selain fokus dengan siomaynya, Ira juga mengembangkan dimsum buatannya dengan berbagai macam inovasi untuk menarik konsumen, pelanggan dan reseller.

Usaha yang dilakukan Ira untuk mengembangkan target pasarnya yaitu dengan cara membuat website pribadinya. Harapan Ira dengan menggunakan website pribadinya sebagai ladang promosi, Ira berharap menjangkau pelanggan, konsumen dan resellernya ke seluruh pelosok nusantara, tidak hanya Jabodetabek dan sekitarnya.

Kisah Ira patut dijadikan teladan, karena setiap masalah yang dihadapi oleh manusia tentu ada jalan keluarnya asalnya manusia menjalani dengan sabar tanpa berkeluh kesah. Kisah Ira yang bermodalkan tekad dan uang pinjaman patut dijadikan contoh, keterbatasan modal dan suami yang kehilangan pekerjaan, tidak menjadikan Ira terpuruk meratapi nasib namun menjadikan Ira gigih untuk terus berusaha menopang hidup dan keluarganya.
Merekrut Karyawan dengan Cara Memberikan Pelatihan

Banjir pesanan membuat Lusia bingung, karena waktu pengerjaan yang lama membuatnya membutuhkan karyawan. Lusia sangat perlu menambah karyawan, hal ini karena kerajinan yang dibuat hampir 80% adalah handmade dan full handy sehingga membutuhkan waktu yang lama dalam pengerjaannya dan membutuhkan orang yang terampil menyulam.

Oleh karenanya, ia kesulitan untuk menemukan sumber daya manusia yang dapat menyulam. Namun, Lusia tidak kehabisan akal, alih-alih memberikan pelatihan di beberapa tempat di daerah pedesaan, ia pun merekrut karyawan.  Lusia rajin memberikan pelatihan menyulam kepada warga di desa Pandaan dan Sidoarjo.

Hasil pelatihan tersebut, ia jadikan sebagai dasar merekrut karyawan, bagi peserta pelatihan menyulam yang memiliki karya terbaik akan ia ajak bergabung menjadi karyawannya. Pelatihan tersebut membuahkan hasil, Lusia menambah karyawan sebanyak 6 orang.

Setiap karyawan yang ia rekrut dapat mengerjakan sulamannya di rumah masing-masing. Setiap seminggu sekali ia datang untuk memantau hasil sulamannya serta memberikan bahan baku dan mengambil produk yang sudah jadi. Dengan sistem kerja tersebut, setiap bulan Lusia menghasilkan omzet rata-rata per bulan sekitar 30 juta rupiah.
Berharap Menjangkau Pasar Internasional

Harapan Lusia kepada Amira Handicraft tidak hanya menjangkau pasar dalam negeri saja, melainkan pasar internasional. Saat ini, produknya tersebar di Surabaya, Jakarta, dan wilayah di luar pulau Jawa seperti Kalimantan dan Sumatra. Usaha kain perca yang ia jalani ini telah berjalan kurang lebih 13 tahunan.

Lusia menyadari, bisnis ini tidak berjalan mulus karena sulitnya mendapatkan sumber daya alam yang terampil dalam menyulam. Hal tersebut, membuat Lusia sangat menghargai hasil karya seni sehingga ia menggaji karyawannya dengan harga yang tidak murah.

Lusia terus mempromosikan produknya di digital marketing dengan harapan dapat menjangkau pasar dunia. Selain itu, ia juga rajin membagikan tips merawat produknya bagi konsumen telah membeli produknya agar produk yang telah dibeli awet. Produk kain perca buatannya membutuhkan perawatan khusus agar tidak mudah rusak.

Tips untuk merawat tas kain perca disarankan agar isi bawaan tas tidak membawa benda-benda yang berat agar tas awet dan sulaman tetap bagus terawat sedangkan untuk produk bed cover disarankan saat mencuci menggunakan metode dry clean. Ketekunan Lusia dalam usaha kain perca ini dapat dijadikan inspirasi bagi pelaku bisnis lainnya karena dengan mendaur ulang potongan limbah tekstil dapat meraup untung hingga puluhan juta rupiah.