Aspek Pajak Penjualan Rumah: Kepemilikan Rumah

Aspek Pajak Penjualan Rumah: Kepemilikan Rumah - Meskipun sebagian besar keuntungan penjualan rumah sekarang bebas pajak, masih ada langkah-langkah yang dapat Anda ambil untuk memaksimalkan manfaat pajak dari penjualan rumah Anda. Pelajari cara mencari manfaat Anda, memperhitungkan faktor-faktor dasar Anda, perbaikan rumah dan banyak lagi.



Keuntungan menjual rumah biasanya bebas pajak

Menurut informasi terbaru, sebagian besar penjual rumah bahkan tidak perlu melaporkan transaksi ke IRS. Tetapi jika Anda salah satu pengecualian, mengetahui aturan akan membantu Anda menahan tagihan Pajak Penjualan Rumah Anda.

Tidak hanya pendapatan yang dikenakan biaya pajak, jual beli rumah juga ternyata ada pajak penjualan rumah yang harus dan harus dibayar. Pajak penjualan di rumah itu tampaknya ditanggung oleh penjual dan pembeli.

Apa yang Anda sukai dan berapa yang harus dibayar penjual dan pembeli? Pajak penjualan rumah pembeli: Berikut ini adalah biaya dan pajak penjualan rumah yang harus ditanggung pembeli:

PPN

Jika Anda melakukan pembelian rumah oleh pengembang atau entitas yang merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP), maka sebagai pembeli Anda harus membayar PPN dengan tarif 10% dari harga tanah. Namun, jika penjual rumah bukan PKP, misalnya ketika Anda membeli rumah bekas, maka Anda harus menyetor PPN Anda sendiri ke kas negara.

Biaya untuk membuat Akta Jual Beli

Akta Biaya Pembelian adalah 1% dari nilai transaksi jual beli rumah. Biaya produksi AJB ditanggung oleh pembeli kecuali ada perjanjian lebih lanjut dengan penjual.

Bagaimana Aspek Pajak Penjualan Rumah: Kepemilikan Rumah?


Biaya Periksa Sertifikat

Biaya ujian sertifikat berkisar hingga Rp 100.000. Periksa sertifikat itu penting untuk mengetahui legalitas sertifikat rumah yang akan dibeli. Ini harus dilakukan untuk menghindari membeli tanah / bangunan yang bermasalah.

Biaya untuk Nama Sertifikat

Biaya untuk nama sertifikat biasanya 2% dari nilai transaksi atau sesuai dengan peraturan pemerintah setempat yang berlaku. Pembeli biasanya harus memproses di belakang nama itu sendiri kecuali rumah dibeli langsung dari pengembang.

Biaya untuk Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

BPHTB adalah pajak penjualan rumah yang ditanggung oleh pembeli. Biaya ini hampir mirip dengan PPh untuk penjual. Tarif hingga 5% dari harga jual rumah dikurangi Nilai Objek Kena Pajak (NPOPTKP). Nomor NPOPTKP itu sendiri telah ditentukan oleh setiap pemerintah daerah di mana rumah tersebut berada.

Pajak penjualan rumah penjual ditanggung oleh:

pajak penghasilan

Pajak Penghasilan (PPh) adalah tanggung jawab penjual sebagai penerima uang dari transaksi. Menurut Peraturan Pemerintah nomor 34 tahun 2016 tentang Tarif PPh Final Baru tentang Pengalihan Hak atas Tanah / Bangunan, jumlah PPh yang dibebankan untuk penjualan rumah adalah 2,5%.

Biaya notaris

Ketika melakukan transaksi penjualan rumah, tentu saja, membutuhkan jasa notaris / Petugas Pembuatan Akta Tanah (PPAT) yang berdomisili di area rumah untuk dijual. Secara umum, notaris / ppat sudah memiliki biaya standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

Baca Juga: http://upermatasari.mhs.uksw.edu/2019/09/cara-bermain-game-dragon-puzzle-untuk.html

Pajak properti

Jenis lain dari pajak penjualan rumah adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Pajak ini biasanya dibayarkan dalam satu tahun. Sebagai penjual rumah, adalah kewajiban Anda untuk membayar tanah sebelum rumah dipindahkan ke pembeli. Jumlah PBB adalah 0,5% dari Nilai Penjualan Kena Pajak (NJKP) dikalikan dengan NJOP sebagai dasar untuk pajak.

NJKP yang ditetapkan oleh pemerintah adalah 40% untuk rumah dengan harga di atas Rp 1 miliar, dan 20% jika harga rumah di bawah Rp 1 miliar. Demikian artikel tentang Aspek Pajak Penjualan Rumah: Kepemilikan Rumah mungkin bermanfaat, terima kasih.